Kamis, 03 Februari 2011

PANTUN MASYARAKAT DESA PULAU ARO

Ula' Tapiat
Ke-pondo’, pondo’ sawah
Pondo’  beisi ladung padi
Bukannya ulo’, ulo’ gerah
Ulo’ tak sampai kehati

Aga’- aga’ menanam tebu
Pucu’ talanca ula’ tapiat
Aga’-aga’ kato begitu
Isu’ menyesal dikemudian

Ayam kuri’ betambang besi
Tepaut diumpun pandan
Ilir mudik munsana’ benci
Pergi kelaut membuang badan

LUMBUNG PADI


Bili' Padi
Pulau Aro adalah penghasil padi yang sangat potensial karena sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Padi sebagai bahan pangan pokok masyarakat desa Pulau Aro, menjadikan ini sebagai tanaman utama di lahan pertanian mereka. Tetapi kenyataan sebagai petani banyak masyarakatnya yang membeli beras karena kekurangan stok beras. Keadaan ini terjadi sejak tinggalnya tradisi lumbung padi yang membuat masyarakat diguncang masalah ketergantungan dengan pasar. Dalam bahasa masyarakat desa Pulau Aro lumbung padi lebih dikenal dengan nama Bili’ / Ladung.

IRIGASI DESA PULAU ARO


Sawah Tadah Hujan Plaho
Luasnya sawah tadah hujan di Desa Pulau Aro merupakan penghasilan padi yang sangat potensial jika dikelola dengan baik. Sawah ini berada diseberang sungai tabir desa Pulau Aro yang berjarak ± 50 meter dari desa. Sawah Batang Pinang, sawah Sungai Sod dan sawah Bekal Dalam merupakan sebagian sawah yang ada di desa Pulau Aro.
Dengan terkendala genangan air yang tidak stabil, membuat sawah-sawah di desa Pulau Aro belum memperoleh hasil padi yang optimal. Padi memerlukan penggenangan air pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Oleh sebab itu sawah tadah hujan sangat baik jika dijadikan sawah irigasi. Sawah irigasi merupakan upaya untuk mengairi lahan pertanian agar lebih stabil. Untuk itu pembangunan irigasi sangat perlu demi peningkatan produksi padi.